oleh

Tak Kantongi Ijin Resmi, Ternak Sapi Suwono Terancam Disegel

Kabartoday, Bekasi – Berdirinya kandang sapi ditengah-tengah pemukiman warga kampung Setu, desa Sindang Mulya, Kecamatan Cibarusah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat sejak 4 bulan lalu diduga kuat adanya kongkalingkong antara pemilik usaha dengan RT, RW dan oknum Lurah Sindang Mulya dalam ijin usaha tersebut. Pasalnya, warga yang terdampak pencemaran udara maupun bau kotoran sapi tersebut tidak dapat berbuat apa-apa ketika dimintai tandatangan diatas kertas kosong oleh oknum RT setempat.

Hal tersebut tentunya telah membawa dampak buruk atas birokrasi yang tidak sejalan dengan aturan dan perda kabupaten Bekasi. Peristiwa yang sempat ramai diberbagai media online ini kembali menjadi sorotan publik ketika pemilik usaha sapi diketahui juga menjabat sebagai bendahara di Yayasan Al-Hanif yang berlokasi di Perum Mutiara Bekasi. Meski awalnya ia membantah tidak ada kaitannya usaha yang didirikannya itu dengan Yayasan Al-Hanif, namun disinyalir ada keterlibatan Yayasan guna meloloskan berdirinya kandang sapi ditengah-tengah pemukiman warga Kampung Setu.

Sebelumnya pada hari Senin (3/12/2019) Camat Cibarusah Muhamad Kurnaepi SE., juga telah telah memerintahkan Kepala Seksi Ekbang dan Kepala Seksi Trantib untuk segera kroscek peternakan tersebut terkait perijinan yang tidak mengantongi ijin resmi.

BACA JUGA:  Syahlan Gantikan Sugiyanto Jabat Ketua PN Jakbar Mulai 14 Juni 2019
Bukti japrian dengan Camat

“Nanti saya akan tugaskan Kasi Ekbang dan Kasi Trantib untuk segera kroscek ke kandang sapi itu, karena yang bersangkutan juga belum memberikan tembusan ke kami. “kata Camat Cibarusah melalui WhatsApp nya.

Akhirnya, kemaren pada hari Jum’at (6/12/2019) Camat Cibarusah mengirimkan utusannya untuk mengkroscek laporan wartawan ke peternakan sapi yang diketahui milik H. Suwono salah seorang yang juga menjabat bemdahara di Yayasan Al-Hanif.

Sebelumnya, pada tanggal 2 Desember 2019, media ini juga telah melakukan penelusuran dan menyambangi kantor Yayasan Al-Hanif yang berlokasi di Perum Mutiara Bekasi Jaya, Desa Sindang Mulya, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi Jawa Barat.

Kroscek kepeternakan sapi oleh pihak kecamatan

Menurut security Yayasan Al-Hanif yang bernama Yudi, ia membenarkan kepemilikan adanya usaha ternak tersebut atas nama Drs. H. Suwono yang juga menjabat sebagai bendahara di Yayasan Al-Hanif.

“Setau saya, usaha ternak sapi tersebut bukan milik yayasan, melainkan milik personal pak Suwono sendiri, dan tidak ada kaitannya dengan Yayasan ini ya mas, meski beliau adalah bendahara di Yayasan Al-Hanif, tetapi usaha ternak sapi itu murni pribadinya sendiri, “jelas Yudi.

BACA JUGA:  Djoko Edhi Bantah Tuduhan Kelompok BEM & Cipayung Memfitnah Dirinya

H. Suwono kerap dikenal warga sebagai seorang Kepala Sekolah disalah satu SLTA di Bekasi Utara, dan juga merangkap bendahara di Yayasan Al-Hanif. Meski diketahui ia juga pemilik usaha ternak sapi di Kampung Setu yang berdiri diatas tanah miliknya sendiri.

Berdasarkan informasi yang diterima langsung oleh Suwono, bahwa ia mengakui usaha ternak sapinya itu tidak ada kaitannya dengan Yayasan Al-Hanif. “Ternak sapi itu murni pribadi saya ya mas, dan tidak ada kaitannya dengan Yayasan Al-Hanif. “Urai Suwono ketika dikonfirmasi media ini beberapa hari lalu melalui komunikasi selullar.

Suwono juga membenarkan soal perijinan usaha ternak miliknya itu hanyalah baru sebatas ijin lingkungan sekitar. “ijinnya baru sampai tingkat RT, RW dan Kadus saja. “ucap Suwono.

Patut diduga, ijin usaha ternak sapi tersebut yang dikatakan Suwono tidak memiliki legal form resmi dari pemerintahan setempat, dan hanya ijin lisan.

BACA JUGA:  Hujan 5 Jam, 60 Rumah Warga Terdampak Meluapnya Kali Lo

Sebuah usaha peternakan yang diduga kuat tidak mengantongi izin resmi itu, dan hanya bermodalkan tandatangan di kertas kosong yang disodorkan ke warga terdampak pencemaran telah menjadi bola panas dalam penerapan birokrasi perijinan wilayah.

Berdasarkan sumber dari warga yang terdampak pencemaran lingkungan tersebut mengatakan bahwa banyak warga dimintai tandatangan oleh RT hanya di kertas kosong tanpa legal form kop surat RT/RW, yang tertulis hanya ada nama aja, dan uang Rp. 50 ribu setelah warga menandatangani kertas kosong itu.

Untuk itu, berdasarkan temuan dan kajian yang telah dihimpun media ini, maka sudah sepatutnya Dinas perijinan kabupaten Bekasi maupun dinas peternakan segera mengambil sikap tegas untuk segera menyegel usaha peternakan sapi liar milik Suwono, hal itu berdasarkan adanya perilaku birokrasi yang sangat bobrok diwilayah hukum Pemkab Bekasi dalam penerapan dilapangam oleh sejumlah oknum RT, RW, dan Lurah Sindang Mulya.[]Tom

Komentar