oleh

Uneg Uneg Politik Khas Santri Salaf Al Mudatsir dan Isu Oposisi

Oleh : Thoha Mannan

Asli Santri Salaf al Falah Ploso

Menjelaskan keterlibatan pihak lain dalam dinamika hidup bermasyarakat santri salaf sering menggunakan idiom tasrif ruba’i, khumasi atau sudasi hingga yang semula tsulatsi membentuk ruang individual bergeser menjadi komunal.

Tercermin pula isu pergeseran tsulatsi ke ruba’i dalam tata kelola ruang dan waktu dalam jejak qs al ashr yang menyatakan bahwa mereka yang sukses mengelola ruang dan waktu adalah individu yang beriman dan beramal sholeh (tsulatsi) yang dalam kehidupan bermasyarakat menempatkan check and balancing (ruba’i) sebagai gaiding jalan kebenaran dan ketahanan nasional.

BACA JUGA:  Polda Banten Optimalkan Patroli KKYD

Lebih jauh lagi qs al mudatsir menggambarkan kondisi masyarakat yang stagnan dan establish dengan istilah mudatsir (berselimut) harus digedor pintunya supaya segera bangkit dan dikritisi setiap kebijakannya agar tetap pada jalur kebenaran Ilahi dan taat asas pada sistem clean goverment (qs al mudatsir 1- 5)

Dalam ranah demokrasi, fenomena qs al ashrm al mudatsir dan pergeseran tasrif tsulatsi ke ruba’i adalah pijakan strategis pentingnya peran oposisi dalam menggaiding pemerintah untuk tidak seenaknya mengelola amanah rakyat.

BACA JUGA:  Taman Biasa Disulap Menjadi Taman Bacaan 64. PPSU Kel Cakung Barat

Maka perhelatan besar pemilu menemukan ruh demokrasi yang ideal jika ditindaklanjuti dengan memuliakan oposisi sekalipun kritik kritiknya terdengar pedas dan menyebalkan.

Peran strategis oposisi yang lain adalah memecahkan tembok kekuasaan yang dari fitrahnya memiliki keterikatan dengan dalil “kekuasaan punya naluri korupsi” tak peduli kekuasaan di lingkupa organisasi agama atau negara.

Bahwa jika yang semula bertarung keras dalam kontestasi pemilu yang tidak hanya berkeringat tapi juga berdarah darah kemudian masuk dalam satu barisan posisi pemerintah jelas menjadi sah jika kemudian publik berpedoman pada akidah “Dalam politik tidak ada kawan atau lawan abadi, karena yang abadi adalah kepentingan
“.

BACA JUGA:  Bengkulu Berduka, #prayforbengkulu

Kondisi dimana kepentingan diatas segala galanya tentu membenarkan tradisi panjat pinang dalam lomba agustusan dimana untuk mendapatkan hadiah harus saling menginjak injak sesama teman tentu ada benarnya.

Mental asal bapak senang (ABS) berkemungkinan tumbuh subur dalam pemerintahan nir oposisi apalagi jika pemerintah yang legitimite meniru orde baru yang menilai kritik sebagai elemen subversi.

Ah, nyapo ndakik men ……

Komentar

News Feed