oleh

Von Edison Tanggapi Munas NU di Banjar Soal Sebutan KAFIR Selain Islam

Kabartoday, Jakarta – Menyikapi penjelasan Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah dalam munas yang berlangsung di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar yang memutuskan tidak menggunakan kata kafir bagi non-muslim di Indonesia, dikatakan Von Edison melalui pesan tertulisnya ke redaksi kabartoday.co.id, Minggu (3/3/2019) bahwa ia sebagai muslim merasa jadi ikut terusik atas pernyataan ini.

Melalui tulisan ini, Von perlu memberi tanggapan dan kritik pada hasil munas tersebut, karena masalah itu justru membuat polemik ditubuh islam bahkan memicu perpecahan akibat berbeda pandangan yang mendasar tentang hukum islam.

PENGERTIAN KAFIR

Secara bahasa, kata kafir berarti orang yang ingkar. Kafir berasal dari kata kufr, yang berarti menyembunyikan atau ingkar.

Orang Arab biasa mengatakan al- Lailu Kafir (Malam adalah Kafir) karena malam menutupi segala sesuatu dengan kegelapannya, atau Kafara al- Ghamamu an – Nujuma (mendung menutupi bintang). Orang yang menanam disebut Kafir , karena ia menyembunyikan atau menutup benih di dalam tanah, Kufur nikmat disebut kufur karena menutupinya.

Kāfir (bahasa Arab: ﻛﺎﻓﺮ kāfir; plural ﻛﻔّﺎﺭ kuffār) secara harfiah berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran.

Dalam agama Islam untuk merujuk kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah (sebagai lawan dari kata syakir, yang berarti orang yang bersyukur).

Setiap hari kaum Muslimin pernah melafalkan kata-kata tersebut ketika membaca Al-Qur’an. Pasalnya, istilah kafir sendiri oleh Allah Ta’ala disebut berulang kali di dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan orang-orang yang tidak mau menerima Islam atau mereka yang bukan dari golongan Muslim.

BACA JUGA:  Alex Asmasoebrata Penuhi Panggilan Polda Metro Jaya Atas Dugaan Fitnah di WhatsApp

Bahkan Allah sendiri menurunkan ayat khusus tentang ini yakni surah Al KAFIRUN.

Ada beberapa contoh ayat yang menjelaskan soal sebutan KAFIR diantaranya.

Dalam firman Allah Q. S . At- Taghobun : 2 berikut:

ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻓَﻤِﻨﻜُﻢْ ﻛَﺎﻓِﺮٌ ﻭَﻣِﻨﻜُﻢ ﻣُّﺆْﻣِﻦٌ

“Dialah yang menciptakan kamu, lalu diantara kamu ada yang kafir dan ada yang mukmin”

atau dalam firman Allah berikut:

ﻓَﻤَﻦ ﺷَﺎﺀ ﻓَﻠْﻴُﺆْﻣِﻦ ﻭَﻣَﻦ ﺷَﺎﺀ ﻓَﻠْﻴَﻜْﻔُﺮْ

“Barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir ) biarlah dia kafir.”

Dalam QS az Zumar 71- 73:

ﻭَﺳِﻴﻖَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﺇِﻟَﻰٰ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺯُﻣَﺮًﺍ

“Orang-orang kafir digiring ke neraka jahannam secara berombongan”

Ayat di atas kemudian diikuti oleh firman Allah berikut:

ﻭَﺳِﻴﻖَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺯُﻣَﺮًﺍ

“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan.

Contoh ayat ayat diatas adalah kenyataan yang tdk bisa dipungkiri bahwa Allah sendiri menyebut KAFIR pada hambanya yang ingkar.

kata ‘kafir’ dalam al – Quran memiliki memang makna yang bermacam- macam, ia bisa berarti kafir dalam aqidah, berbuat pelanggaran, mengingkari kenikmatan Allah, berbuat kerusakan dan pengingkaran hubungan. Pemaknaan ini bisa diamati melalui konteks ayat dan kaitannya dengan ayat yang lain dan saya yakin para ulama dan ahli agama bisa mengetahuinya.

MACAM MACAM KAFIR MENURUT HUKUM ISLAM

Para ulama salaf menjelaskan juga beberapa pembagian jenis orang yang yg dianggap ingkar pada Allah atau dgn kata lain bukan menyembah Allah yang HAQ misalnya agama agama lain yang tidak berhukum pada kitab kitab Allah dengan benar.

BACA JUGA:  ADVANCE hadirkan kursi therapy untuk generasi milenial

Kriteria ini berdasarkan tempat dimana mereka tinggal

1). Kafir Dzimmy, yaitu orang kafir yang membayar jizyah (upeti) yang dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin. Kafir seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih menaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada mereka.

2). Kafir Mu’ahad, Orang-orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati. Dan kafir seperti ini juga tidak boleh dibunuh sepanjang mereka menjalankan kesepakatan yang telah dibuat.

3). Kafir Musta’man, Orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kafir jenis ini juga tidak boleh dibunuh sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan.

4). Kafir Harby, kafir selain tiga di atas. Kafir jenis inilah yang disyari’atkan untuk diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syari’at Islam.

Istilah kafir menurut saya bukan pandangan negatif atau merendahkan orang orang yang bukan islam melainkan ISTILAH syariat untuk menyebut mereka sebagai orang yang tidak sejalan dengan islam dan sebagian ingkar pada hukum hukum Allah.

LANTAS KENAPA TAHU-TAHU MUNAS NU DI BANJAR TIDAK MEMPERBOLEHKAN MENYEBUT KAFIR SELAIN NON-MUSLIM, SEDANGKAN ALLAH SAJA BERFIRMAN DENGAN JELAS?

Sejak kapan NU jadi mendikte Allah dan seolah-olah melarang Allah menyebut kata kafir?

Sejak kapan kalau dajal tidak boleh disebut bukan kafir?

BACA JUGA:  Lima Tuntutan FWJ ke Pemprov DKI di Masa Pandemi Corona dan PSBB

Sejak kapan firaun di sebut bukan kafir?

APAKAH SEJAK JOKOWI JADI PRESIDEN LANTAS MEMBUAT ATURAN ISLAM JENIS BARU?

Kalau memang persoalan KATA KAFIR ini memang bermasalah mengapa tidak dari zaman nabi, sahabat, tabiin tabiun di bahas tuntas?

Kalau memang soal sebutan kafir jadi polemik dengan alasan INTOLERANSI kenapa jauh sebelum jokowi presiden tidak di bahas oleh seluruh ulama dunia?

Kenapa justru di era presiden jokowi di persoalkan?

ADA APA DENGAN REZIM JOKOWI INI WAHAI UMAT MUSLIM !!

Kenapa para ulama, ustadz jadi banyak yang kehilangan kehormatan dan harga diri sebagai muslim sehingga tanpa sadar mendikte perintah Allah?

Sudah jelas islam mengajarkan toleransi,menjaga persatuan dengan non muslim sebagaimana disebut pembagian kaum kafir berdasarkan ia tinggal, tetapi kita tetap tidak menaifkan mereka sebagai kafir walau tentu tidak pula semua di cap kafir.

Kalau memang Munas NU di banjar tidak ingin mengatakan kafir, maka silahkan buang saja surah al kafirun dan ayat ayat yang nyata-nyata menyebut kafir.

Jujur saya secara pribadi menolak keputusan hasil munas NU, karena saya anggap menyalahi al quran dan siapapun yang menyetujui dengan alasan AKAL toleransi dan lain-lain maka silahkan saja.

Yang jelas saya sudah menganggap sejak rezim jokowi berkuasa, Islam semakin carut marut dan baku hantam, sementara kaum kafir tenang-tenang saja, bahkan senang ada umat islam yang ngotot membela mereka lebih lebih menjelang PILPRES 2019 !

2019 WAJIB GANTI PRESIDEN !

Komentar