oleh

Warga Lampung Protes Pengusaha Ilegal Sedot Pasir Laut di Area Anak Gunung Krakatau

Kabartoday, Lampung – Ketua Komisi IV DPRD Lampung Tony Eka Chandra meminta aparat berwenang menindak tegas pengusaha yang menyedot pasir laut di sekitar Anak Gunung Krakatau.

Dilansir dari salah satu media Lampung dengan judul, “Penyedotan pasir laut itu ilegal,” ujar bakal calon bupati Lampung Selatan Minggu malam (24/11/2019).

Masih sambung Tony, pihak yang bertanggung jawab atas penambangan melalui penyedotan pasir laut di sekitar pula Sabesi dan Sebuku adalah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu dan Lampung, Syahbandar, Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Bakauheni.

Saat Tim kabartoday.co.id menghubungi warga Sabesi melalui telepon seluler yang berada di pulau Sebuku dan Sabesi sekitar pukul 23.00 wib, sumber yang tidak mau di sebutkan namanya menyebut PT Lautan Indah Persada (LIP) lah yang telah menyedot pasir laut disekitar Pulau Sebesi dan Sebuku.

“Dampak yang sangat fatal akan terjadi pengrusakan lingkungan hidup, rusaknya ekosistem laut, serta dampak terjadinya gempa di sertai tsunami, hingga akhirnya menimbulkan longsor bawah laut. Hal ini diduga akibat ulah PT. LIP yang sudah berjalan dari tahun 2014 lalu. Bahkan perusahaan tambang tersebut terlihat berganti-ganti nama, “urai sumber kepada kabartoday.co.id.

BACA JUGA:  Puluhan Polwan Cantik Bagikan Takjil Di Traffic light Slipi Jakarta Barat

Perairan sekitar Anak Gunung Krakatau merupakan kawasan cagar alam, daerah konservasi yang merupakan gunung merapi warisan dunia yang harus dijaga kelestariannya. “Ucap warga Sabesi.

“Kekuatiran kami jika disedot pasirnya secara terus menerus, maka laut sekitar Anak Gunung Krakatau dapat menimbulkan tsunami-tsunami susulan yang pernah terjadi pada tanggal 22 Desember 2018 lalu sehingga menimbulkan banyak korban jiwa.

Dikabarkan  sedikitnya 50 warga tadi siang telah berhasil naik di enam kapal pengeruk pasir, dan berhasil menduduki serta mengusir kapal penyedot pasir laut di Selat Sunda yang perbatasan langsung dengan Samudera Hindia, “mereka ramai-ramai mendekati kapal, belasan perahu tradisional dekat dengan lokasi penyedotan Anak Gunung Krakatau. “Kata sumbet.

BACA JUGA:  Natalius Pigai Singgung Tim Hukum Jokowi Hina 9 Hakim MK

Dijelaskan warga, sebelumnya masyarakat sekitar area dikeruknya pasir laut telah mengingtai kapal penyedot pasir sejak Sabtu (23/11/2019) malam.

“Siangnya kamk berorasi menolak kehadiran kapal penyedot pasir milik PT LIP. “Tegas warga.

Dari atas salah satu kapal nelayan, warga juga membentangkan spanduk PT Lautan Indah Persada yang bertuliskan ‘Kami Masyarakat Menolak Aktivitas Penambangan Pasir Di Wilayah Anak Gunung Krakatau, Pulau Sebesi, dan Pulau Sebuku,”ucapnya.

“Kami punya buktinya kalau ada penambangan pasir ilegal di sekitar Pulau Sebesi dan Sebuku, kami sudah keluhkan kepada semua pihak instansi di Lampung, dab terkesan lambat dalam merespon hal tersebut. ”ucap salah seorang warga.

Ketua Nelayan Pulau Sebesi Rahmatullah mengatakan masyarakat dan para nelayan menuntut penghentian operasi kapal penyedot pasir PT Lautan Indah Persada.

Sebelumnya, kapal penyedot pasir milik PT Lautan Indah Persada (LIP) tersebut telah ditolak mentah-mentah oleh warga dan juga ditentang oleh Gubernur Lampung Arinal Djunaidi.

BACA JUGA:  Prajurit Jaga Plangton Garis Terdepan Markas Korem 052/WKR

Kapal penyedot pasir berupa KM Mehad 1dan tongkang bernama TSHD Mekar 501 beroperasi berada pada jarak 2,5 mil dari bibir pantai yang bisa berisi sekitar 40 kubik lebih pasir.

Dari hasil pantauan wargal, kami kapal tersebut bernama KM. MEHAD 1 dalam keadan menyala dan kondisi masih hidup diduga sedang melakukan penyedotan pasir hitam yang peruntukannya untuk di bawa ke pulau Sulawesi.

Video Teekait

Sementara Yulida (Samaran), selaku perwakilan atas nama nelayan dan masyarakat adat meminta untuk Presiden Ir H.Joko Widodo Beserta Siti Nurbaya Menteri Lingkungan Hidup dan Kapolri Idham Aziz.

“Tolong bantu masyarakat Pulau Sabesi dan Sebuku untuk menstop penambangan di wilayah kami agar kami tidak merasakan tsunami seperti di tahun 2018 silam,”pungkas Yulida warga pulau Sebuku.[]Jal

Komentar