oleh

Yan Wenda Politisi Partai Demokrat: Pemilihan Sekda Papua Bernuansa Politik

-Aktual-14 views

Kabartoday, Papua,- Ketua Fraksi Demokrat Kabupaten Tolikara sekaligus politisi muda Yan Wenda S.sos melihat dinamika masyarakat Papua yang merasa resah dengan edaran Surat Keputusan Presiden Nomor R-314/adm/TPA/09/2020 berisikan ‘Pejabat Pimpinan Tinggi Madya’ di lingkungan pemerintah provinsi Papua yang mengangkat sodara Dance Yulian Flassy SE, M.Si Sebagai Sekda Devinitif dinilai tidak sesuai dan di paksakan dengan hasil penilaian Panitia Seleksi (Pansel) yang di sinyalir sarat kepentingan Politik.

Yan Wenda mengatakan bahwa masyarakat papua hari ini dibuat “Bingung” dengan keputusan yang diambil oleh Presiden karena jabatan Sekertaris Daerah (Sekda) Papua, Soal jabatan profesionalisme sesuai karir namun terkesan ada dugaan intervensi politik dan ini akan membuat kepercayaan masyarakat Papua terhadap pemerintah pusat semakin menurun.

“Orang yang punya nilai tinggi dan berkualitas ada tetapi yang ditunjuk orang yang nilainya di bawah, masyarakat awam pun akan menilai bahwa ada intervensi politik, lihat semua yang terlibat hari ini dalam calon Sekda adalah Putra-Putri Papua dan jika ada kecurigaan bisa cek and ricek trek record mereka dan tanyakan langsung?,” katanya di Tolikara, Minggu (25/10/2020) kepada awak media.

Ada Panitia Seleksi (Pansel) dan BKD tapi Kenapa tidak melalui jalur? dan paling utama itu hasil kerja Pansel.

“Dan jujur saja rakyat Papua sudah tau siapa yang akan naik sekda tapi kami lihat pejabat birokrat sudah ada intervensi politik,” tegasnya.

Dalam melihat hasil Pansel dalam seleksi Sekda definitif Provinsi Papua sejak awal selalu berjalan transparan kepada publik dan prosesnya selalu berjalan baik dan tidak ada polemik di tengah-tengah masyarakat Papua.

“Masyarakat mengikuti hasil kerja pansel dari sekian anak asli putra daerah yang berhasil masuk hanya 3 besar sehingga kami memberikan apresiasi kerja-kerja pansel, dan masyarakat Biasa kita ikuti dari awal skor nilai pertahapan seleksi terus dipublikasikan oleh pansel dan masyarakat turut serta memantau nilai dari masing-masing calon Sekda dan terlihat bahwa Doren Wakerkwa memiliki nilai yang baik dan kita ikuti sampai di pusat sudah ada nilai rekor mereka dari hasil usaha mereka untuk mengikuti berbagai macam proses tahapan tes dan kami tahu yang memiliki nilai baik adalah Doren Wakerkwa, tetapi yang kami ikuti dengan tersebarnya SK penetapan oleh Presiden bahwa saudara Dance Flassy terpilih sebagai Sekda yang awalnya berada di nomor urut 3 sementara Doren Wakerkwa dengan nilai terbaik tidak dipilih, masyarakat Papua menilai Pemerintah Pusat dalam hal ini Presiden tidak adil dan tidak menghargai Pansel,” beber Yan Wenda.

“untuk itu kami berpesan jika memang penunjukan langsung dilakukan oleh Presiden maka tidak perlu ada “Pansel” tetapi langsung ditunjuk saja karena prosedur yang dilakukan terkesan percuma karena semua akan berujung di presiden,” tegasnya.

Dia mengatakan jangan masyarakat dibuat bingung adanya tim pansel sementara hasil kerja tim pansel yang mengeluarkan begitu banyak dana tidak dihargai oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini Presiden Jokowi.

Di ketahui dari nilai skor pansel nilai tertinggi untuk calon Sekda Papua adalah Doren Wakerkwa, tetapi masyarakat Papua di kejut kan dengan tersebar nya SK Penetapan oleh Presiden RI. Bahwa saudara Dance Flassy terpilih sebagai Sekda Papua. Yang awalnya berada di nomer urut 3 ( Tiga ), sementara di nomot urut 1 (Satu ) sudah jelas terlihat Doren Wakerkwa dengan nilai terbaik, dalam hal ini ketua Fraksi Partai Demokrat Yan Wenda, S.Sos mengatakan.

” Kepada Pemerintah Pusat tidak adil dan tidak menghargai keputusan Pansel,” Pungkas Politisi muda Yan wenda S,sos (tom)

BACA JUGA:  Festival Pencak Silat Botani Square Cup VII 2019 Resmi Dibuka Wakil Walikota Bogor

Komentar