oleh

Yang Hilang Dari Pembelajaran Daring

           Genap satu tahun pandemi Covid 19 mendera Indonesia. Sejak kali pertama diumumkan awal Maret tahun 20121  lalu oleh Bapak Presiden RI Joko Widodo, penyakit yang menyerang sistem pernapasan itu telah menjangkiti hampir satu setengah juta  jiwa dan merenggut nyawa  lebih dari  tiga puluh delapan ribu orang. Data terahir per  13 Maret 20121 sebagaimana dilaporkan oleh detikcom tercatat  1.414.741 positif, dan  sebanyak 38.329 orang meninggal dunia.

Sejauh ini belum  tampak tanda-tanda wabah tersebut akan berahir, meski berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan telah diupayakan oleh berbagai pihak. Disamping menimbulkan kerugian material yang tak terhingga, juga mendatangkan penderitaan dan/atau kesusahan  batin  seperti kematian keluarga tercinta  misalnya.  Penyakit/wabah ini telah pula mengubah banyak kebiasaan, salah satunya adalah aktifitas layanan pendidikan dan/atau pembelajaran di sekolah-sekolah formal.

Pembelajaran, yang sebelumnya  lazim dilaksanakan dengan tatap muka, dimana guru dan siswa hadir dan membangun interaksi  timbal balik secara  langsung (direct teaching), selama masa pandemi , pembelajaran konvensional itu tidak lagi bisa dilaksanakan. Padahal, pembelajaran model ini diyakini memiliki  efektifitas sangat tinggi dalam proses transformasi baik pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), maupun ketrampilan tehnis (psikomorik), juga pengalihan atas pengalaman-pengalaman pembelajaran unik dari guru/lingkungan kepada anak didik secara langsung.

Sebagai pengganti ketiadaan pembelajaran tatap muka, pemerintah melalui SKB 4 menteri, dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Kementrian Agama (Kemenag), Kementrian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementrian Dalam Negeri (Kemdagrui)  Rpublik Indonesia  merekomendasikan  bahkan  “mewajibkan” pembelajaran dalam jaringan (daring) untuk semua satuan pendidikan pada seluruh jenjang pendidikan dari TK hingga Perguruan Tinggi. Tentu saja pembelajaran  berbasis IT ini dipilih dengan harapan agar penyebaran dan perluasan wabah Corona dapat dicegah hingga tidak meluas dan dampak buruk yang ditimbulkanya dapat diminimalisisr, sebagi akibat dari bertemunya orang perorang secara intens dalam waktu yang lama. Bukan hanya pada proses pembelajaran saja yang harus dilakukan  secara daring, pun juga penilaian harus dilakukan dengan tehnik yang sama (daring).

Pertanyaanya, efektifkan pembelaajaran dan penilainya dilakukan secara daring ? merujuk pada sumber-sumber ilmiah pendidikan/pengajaran  didukung oleh pengalaman  penulis selama menjadi pengajar, dapat dinyatakan bahwa untuk materi-materi ajar yang bernah kognisi seperti  konsep, teori, prinsip-prinsip, kaidah-kaidah, dalil-dalil dan fakta-fakta bisa cukup efektif meski hanya disampaikan secara daring. Tetapi tidak demikian  dengan materi-materi ajar yang bersifat praktis, pembentukan karakter, kebiasaan-kebiasaan positif, juga pengalaman-pengalaman pembelajaran baik langsung maupun tidak langsung, tentu mengharuskan kehadiran guru-siswa secara bersamaan dalam sebuah interaksi dua arah, dan karenanya untuk konteks ini pembelajaran daring kurang atau tidak  efektif dan tidak bisa menggnatikan posisi pembelajaran tatap muka.

Materi-materi ajar jenis ini membutuhkan  kehadiran guru atau mentor sebagai tranformer langsung. Dalam hal-hal yang tersebut  terahir ( praktek,pembentukan karakter, pembiasaan positif, dll), pemeblajaran tatap muka jauh lebih unggul dibanding pembelajaran daring. Dengan kata lain pembelajaran daring tidak bisa menggantikan posisi pembelajaran tatap muka dalam hal pembentukan ketrampilan praktis, pembentukan karakter dan pengalaman belajar spesifik untuk setiap individu anak didik. Belum lagi keterbatasan-keterbatasan tehnik juga menambah beban ketidak efektifan membelajarn jenis ini. Rekayasa tehnologi hanya bisa menggantikan sebagian dari fungsi  tanpa bisa menggeser keunggulan pembelajaran tatap muka.

Bagaimana dengan penilaian hasil dan proses pembelajaranya ? Sama halnya dengan materi ajar yang  beranah kognisi,  hasil  belajar ranah ini dipastikan bisa dinilai dengan  menggunakan jenis penilaian  verbal dalam bentuk test tulis melalui media daring. Sedang untuk hasil pembelajaran yang beranah afeksi /sikap dan ketrampuilan tehnis (psikomotorik) tentu tidak bisa dan tidak cukup hanya dinilai dengan menggunakan penilaian  verbal seperti tes tulis. Pembiasaan diri yang positif, seprti tanggungjawab, pengendalian dan/atau penyesuaian diri,membangun sistem nilai yang ajeg    sebagai indikator hasil belajar ranah afeksi misalnya hanya efektif jika dinilai dengan menggunakan pengamatan langsung oleh guru/mentor, pun juga untuk melihat  perkembangan /kemajuan siswa dalam mematuhi kedisiplinan, guru perlu mengamati langsung melalui apa yang disebut sebagai penilaian yang sebenarnya (authentic assesment).

Juga  hasil belajar aspek psikomotorik hanya akan efektif jika dinilai dengan menggunakan pengamatan langsung saat  kegiatan belajar tersebut dikerjakan oleh siswa sekaligus melakukan koreksi melalui penilain perbuatan atau penilain kinerja. Untuk melihat bagaimana siswa memperagakan praktek wudlu dan/atau  gerakan sholat yang rumit (compleks overs responds) pada matapelajaran Pendidikan Agama Islam  di SD klas rendah misalnya, perlu observasi dan penilaian langsung dari guru. Pun juga untuk menilai kreatifitas, kumpulan karya-karya anak didik, peminatanya terhadap bidang-bidang tertentu memerlukan penilain yang disebut dengan penilaian portofolio, sementara untuk mengetahui /mengukur persepsi, tanggapan anak didik terhadap suatu obyek memerlukan penilaian inventori berupa angkat.  Sedangkan  untuk memastikan bahwa anak-anak mampu membuat produk-produk tertentu seperti makanan, minuman, pakaian dan kerajinan tangan lainya diperlukan penilaian produk. Dan tentu saja semakin rendah jenjang dan klas sekolah, PAUD misalnya, pembelajaran dan penilaian yang dilakukan secara daring adalah akitifitas yang hampi-hampir mustahil dilakukan. Dan kalulah dilaksanakan dipastikan hasilnya akan jauh dari tujuan pembelajaran yang diinginkan. Di satuan dan/ atau  jenjang pendidikan pra sekolah ini memungkinkan semua  penilaian hasil belajar dilakukan dengan melakukan pengamatan  secara langsung.

Penilaian proses ?,  dalam prakteknya proses pembejarana adalah penerapan sejumlah prosedur didaktis, berupa langkah-langkah taktis untuk membuat proses, tujuan  dan hasil  bisa dicapai dengan efektif, juga penyiapan pra kondisi belajar baik eksternal maupun internalnya.  Sesuatu yang prosedural berupa penerapan sejumlah langkah kegiatan hanya akan mungkin bisa dinilai efekti f dengan melakukan  pengamatan langsung dan keterlibatan aktif antara guru dan anak didik.

Langkah-langkah menyiapkan  anak didik untuk siap mengikuti/melaksanakan Kegiatan pmbelajaran, menata klas, membagi kelompok  dan lainya adalah kegiatan-kegiatan didaktis yang membutuhkan keterlibatan langsung guru-dan siswa dalam pelaksanaanya, dan hal ini sulit dilakukan dengan penilaian verbal model daring. Belum lagi  pengalihan dan /atau pembentukan karakter siswa melalui pengalaman-pengalaman pembelajaran langsung (direct teaching)  mauapun tidak langsung,juga pemberian serangkaian  contoh tindakan  dari guru yang juga tidak efektif dinilai hanya dengan menggunakan moda daring.

Hasil tinjau lapang dan wawancara langsung dengan beberapa kepala sekolah  dan guru-  baik guru klas (untuk SD/MI) maupun guru matapelajaran (untuk SMP/MTs)  beberapa bulan lalu di beberapa sekolah dalam kapasitas penulis sebagai pengurus Dewan Pendidikan Kab Banyuwangi menyimpulkan  bahwa  guru-guru dan /atau kepala sekolah merasa kesulitan untuk melakukan pembelajaran aspek-aspek afektif dan  psikomotorik secara daring. Kesulitan yang serupa dialami juga oleh guru-guru untuk menilai indikator hasil belajar afektif dan psikomotorik.

Kesulitan yang mereka alami juga semakin bertambah-tambah karena prosedur didaktis pembelajaran tidak bisa dilakukan  dengan baik, diamping banyaknya keterbatasan dan kendala tehnis, seperti tidak adanya jaringan WFI, keterbatasan pulsa, keterbatasan  waktu dan pengetahuan akademik orang tua dan sebagainya  – terutama untuk pembelajaran di klas-klas rendah dan PAUD. Dengan kata lain selama pembelajaran daring berlangsung banyak aspek-aspek  pembelajaran yang hilang baik pada proses pembelajaran maupun penilainya.

Tentu kita semua berharap, berbagai upaya yang dilakukan  oleh pemerintah dan berbagai pihak yang peduli terhadap wabah ini segera membuahkan hasil, pandemi Coron- 19 secepatnya berahir, sehingga layanan pendidikan- khususnya pembelajaran dan aktifitas penyertanya –  bisa kembali lagi seperti sediakala. Menemukan dan mengembalikan lagi aspek-aspek pembelajaran yang hilang karena daring ke posisi semula, tatap muka plus. Insya Alloh.

_______________

*Mohammad Hasyim, Pengawas Pendidikan (Purna Tugas), Pengurus Dewan Pendidikan Banyuwangi, mengajar di IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi*

Komentar

News Feed